Just another Blogdetik.com weblog

Telah Terbit Buku Ke Tiga saya : CUKUPLAH ALLAH


cukuplah-allah

Judul Buku                  : CUKUPLAH ALLAH

Penulis                        : Dewi Yana

Kata Pengantar          : Ustadz Jefri Al Buchori ( Uje)

Penerbit                       : Zikrul Hakim

Tebal                            : 160 Halaman

Ukuran Buku                : 14 X 20.5 cm

Edisi                             : Soft Cover

Cetakan pertama        : Oktober 2009

Harga buku                  : Rp 26.000,00

Tersedia di                  : Toko Buku Gramedia

 

Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ust. Jefri Al Buchori (Uje) yang telah sangat baik pada saya dan berkenan memberikan kata pengantar untuk buku ke tiga saya ini.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Ust. Yusuf Mansur, yang telah sangat baik pada saya dan membantu saya dalam banyak hal, hingga buku ini di terbitkan.

DEWI YANA

HATI-HATI TERHADAP KESYIRIKAN


Hidup ini tidak pernah lepas dari cobaan dan ujian. Cobaan atau ujian yang Allah SWT berikan kepada manusia, ada yang berupa kenikmatan atau kebaikan, seperti: kekayaan kesehatan, kehormatan dan kesuksesan. Ada pula ujian dan cobaan yang diberikan kepada manusia berupa hal yang tidak menyenangkan, seperti: kemiskinan, sakit; kegagalan dan lainnya.. Sebagaimana tertulis dalam firman Allah SWT,  “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya [21]: 35)

Ayat di atas menunjukkan bahwa ujian merupakan suatu yang pasti akan ditimpakan kepada setiap manusia. karena itu, kita hendaknya mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Sehingga tidak terbesit sedikit pun di dalam diri kita untuk berburuk sangka terhadap Allah SWT akan ujian yang kita alami.

Yakinlah bahwa apa yang Allah berikan kepada kita pasti merupakan sesuatu yang terbaik. Allah SWT berfirman, “……Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah [2] : 216)

Seorang mukmin tatkala menghadapi ujian atau cobaan hendaknya bersikap sabar dan meyakini, bahwa d balik semua itu terdapat kebaikan dan pahala yang besar dari Allah SWT. Perhatikan sabda Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu dia mengucapkan, ‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un’ lalu berdo’a, ‘Ya Allah Berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti yang lebih baik darinya,’ melainkan Allah benar-benar memberikan pahala dan memberinya ganti yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim).

Tapi pada kenyataannya, tidak setiap orang dapat menyikapi musibah atau ujian kesulitan / kegagalan  yang diberikan Allah SWT dengan sabar, mengharap kebaikan / ganti yang lebih baik, dan ampunan dari Allah SWT. Karena itu tidak sedikit di antara kita yang mengambil cara dan jalan pintas untuk menghilangkan musibah dan ujian tersebut.

Jalan pintas yang ditempuh antara lain dengan mendatangi dukun atau paranormal untuk mendapatkan kesembuhan dan atau untuk mengetahui peruntungan nasib, mendengarkan ralaman nasib dan mempercayainya. Meminta paranormal agar memprediksi masa depan kita. Itu semua adalah sebuah kesesatan. Dan yang sangat memperhatinkan, kesesatan semacam itu, sekarang ini sudah semakin merajalela dimana-mana.

Mendatangi dukun atau paranormal merupakan perbuatan yang dilarang keras oleh Rasulullah SAW, Perhatikan sabda Rasulullah SAW., “Barangsiapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu dia percaya dengan apa yang disampaikannya, maka sungguh dia telah kufur (murtad) terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani).

Terlebih lagi apabila kita mempercayai suatu benda, misalnya sebuah batu yang kita percayai memiliki kemampuan atau keistimewaan khusus seperti mendatangkan kesembuhan. Yang mana sebenarnya, kesembuhan adalah hanya dari Allah SWT, maka ini jelas merupakan kesyirikan yang besar, yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam.

Kalau seandainya ada batu yang boleh diagungkan oleh kaum Muslimin dan boleh bagi mereka mengharapkan berkah darinya, tentu batu tersebut hanyalah “Hajar Aswad”, ketika kaum Muslimin disunnahkan oleh Rasulullah SAW untuk mengecupnya saat melakukan Thawaf, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW

Pernah suatu ketika Umar bin Khattab r.a mencium Hajar Aswad seraya berkata, “Sungguh aku tahu bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak mendatangkan manfaat juga tidak mendatangkan mudharat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW ;menciummu, maka aku pun tidak akan menciummu.(HR. al-Bukhari).

Beliau mencium Hajar Aswad semata-mata karena kepasrahan beliau terhadap syariat yang ditetapkan oleh Allah SWT dan RasulNya. Dan semata-mata ingin mencontoh apa yang diperbuat oleh Rasulullah SAW, dan dengan mencontoh Rasulullah SAW inilah didapatkan barokah.

Syirik adalah dosa besar yang tidak akan diampuni. Perhatikan firman allah SWT berikut ini: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa [4] : 48)

Perhatikan juga firman Allah SWT berikut ini: “……Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72).

Berikut beberapa hadits Rasulullah SAW yang melarang kita mendatangi dan mempercayai ramalan para tukang ramal dan dukun sebagai berikut :

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW  bersabda, “Tiga orang yang tidak masuk surga: Pecandu khamer, pemutus silaturrahim dan pembenar sihir” (HR. Ahmad)

Rasulullah SAW bersabda “barangsiapa yang mendatangi para peramal, lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima baginya shalat selama empat puluh malam  (HR. Muslim)

Apalagi bila sampai bertanya kepada paranormal atau dukun lalu membenarkannya / mempercainya, maka dosanya akan lebih besar lagi. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi para peramal atau dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR Al-Hakim, hadits shahih)

 

Lemahnya iman dalam diri kita, adalah merupakan penyebab utama kita jadi mudah terjebak dalam syirik. Saat kita mengalami ujian kesulitan yang berat, saat kita mengalami kekecewaan dalam hidup, bagi yang lemah imannya, akan sangat mudah terjerumus dalam kesyirikan. Padahal segala sesuatu yang terjadi, baik itu ujian kesulitan ataupun musibah yang menimpa, semuanya terjadi atas kehendak dan ijin Allah, yang mana bila kita bisa bersabar dan rela menerimanya, serta berikhtiar hanya di jalan yang restui-Nya dalam usaha untuk bangkit kembali dari kesulitan dan musibah yang menimpa, maka pasti Allah SWT akan menjawab ikhtiar kita dan memberikan pertolongan pada kita.

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  (QS.At-Taghabun:11).

Ketahuilah, siapa saja yang tidak bisa menghindarkan bahaya yang menimpa dirinya, maka ia pasti tidak akan pernah bisa menghindarkan bahaya yang menimpa orang lain.  Dan ketahuilah bahwa seseorang, siapapun dia, tidak akan pernah bisa mengangkat atau menyingkirkan sesuatu yang diletakkan oleh Allah, tanpa ijin Allah. Dan seseorang, siapapun dia, tidak akan pernah bisa memberikan kesembuhan, kecuali atas ijin Allah.

Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat dan menjadi peringatan bagi kita semua untuk berhati-hati dari kesyirikan. Dan semoga bagi siapa saja yang sudah  terlanjur melakukannya baik dilakukan secara sengaja, ataupun karena ketidaktahuannya, semoga bisa segera bertaubat sebelum ajal tiba.   Semoga Allah SWT memberikan Petunjuk-Nya kepada kita semua untuk dapat menjauhi dan meninggalkan kesyirikan, Amin Ya Robbal Alamin.

Dewi Yana

http://dakwahdewiyana.blogdetik.com

PERBEDAAN ANTARA UJIAN DAN AZAB


Mungkin ada dari kita yang bertanya-tanya, bagaimana membedakan antara ujian dan azab?

Musibah atau bencana yang menimpa orang yang beriman yang tidak lalai dari keimanannya, sifatnya adalah ujian dan cobaan. Allah ingin melihat bukti keimanan dan kesabaran kita. Jika kita bisa menyikapi dengan benar, dan mengembalikan semuanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan dan rahmat sesudah musibah atau bencana tersebut.

Sebaliknya bagi orang-orang yang bergelimang dosa dan kemaksiatan, bencana atau musibah yang menimpa, itu adalah siksa atau azab dari Allah atas dosa-dosa mereka. Apabila ada orang yang hidupnya bergelimang kejahatan dan kemaksiatan, tetapi lolos dari bencana/musibah, maka Allah sedang menyiapkan bencana yang lebih dahsyat untuknya, atau bisa jadi ini merupakan siksa atau azab yang ditangguhkan, yang kelak di akhirat-lah balasan atas segala dosa dan kejahatan serta maksiat yang dilakukannya.

Sebenarnya yang terpenting bukan musibahnya, tetapi apa alasan Allah menimpakan musibah itu kepada kita. Untuk di ingat, jika musibah itu terjadi, disebabkan dosa-dosa kita, maka segera-lah bertobat kepada Allah. Kalau musibah yang terjadi karena ujian keimanan kita, maka kuatkan iman dan berpegang teguhlah kepada Allah.

Siapa saja berbuat kebaikan, maka manfaatnya akan kembali kepadanya. Sedangkan siapa saja berbuat kejahatan, maka bencananya juga akan kembali kepada dirinya sendiri. Bisa dibalas didunia atau di akhirat.

Perhatikan firman allah SWT berikut ini : ”Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab”. (QS. Al Mukmin [40] : 40).

Perhatikan juga dengan seksama firman Allah SWT berikut ini : “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nissa [4] : 79)
Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah” adalah dari karunia dan kasih sayang Allah SWT. Sedangkan makna “dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Berarti dari dirimu sendiri dan dari perbuatanmu sendiri.
Berikut beberapa contoh :
1. Musibah bisa jadi sebagai peringatan
Musibah ini diberikan kepada kaum mukmin yang merosot keimanannya. Peringatan ini karena kasih sayang Allah SWT. Misalnya seseorang yang berada dalam kesempitan rezki. Kemudian ia bermunajat di malam hari agar Allah memberikannya keluasan rezeki. Shalat tahajjud, shalat Dhuha, puasa sunah senin kamis dan perbaikan ibadah lainnya dengan semaksimal mungkin. Hingga Allah SWT memberikan jalan keluar. Bisnisnya berkembang, karyawan bertambah, kesibukan semakin meningkat. Tapi justru dikarenaka sibuknya satu persatu ibadah sunahnya mulai ia tinggalkan. Shalat-shalatnya pun semakin tidak khusyu’. Seharusnya bertambahnya nikmat, membuat ia bertambah syukur dan semakin dekat dengan Allah, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, nikmat bertambah malah membuatnya semakin jauh dari Allah.

Orang ini sebenarnya sedang mengundang datangnya musibah,atau azab Allah. Musibah yang datang kepadanya sebagai peringatan untuk meningkatkan kembali keimanannya yang merosot itu. Bisa saja terjadi tiba-tiba usahanya macet dan banyak mengalami kerugian. Akibatnya ia terlilit hutang. Dalam keadaan bangkrut tadi tidak ada yang mau menolongnya. Ketika itulah ia kembali kepada Allah untuk memohon pertolongan dengan cara memperbaiki ibadah-ibadahnya yang selama ini sudah tidak ia perhatikan lagi. Tercapailah tujuan musibah yaitu pemberi peringatan.
Musibah juga bisa sebagai penggugur dosa-dosa kita. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini: “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Perhatikan dengan seksama firman Allah SWT berikut ini : “Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As Sajdah : 21)
Jadi sebenarnya, Allah SWT menurunkan musibah atau azab pada kita di dunia ini, sebagai peringatan bagi kita, untuk kembali pada kebenaran.

2 Musibah sebagai ujian keimanan
Musibah ini adalah tanda kecintaan Allah SWT pada seseorang hamba. Semakin tinggi derajat keimanan dan kekuatan agama seseorang justru ujian (musibah) yang menimpanya akan semakin berat. Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini : Dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya. Ayahnya berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW,” Manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Rasulullah SAW menjawab,” Para Nabi, kemudian disusul yang derajatnya seperti mereka, lalu yang di bawahnya lagi. Seseorang diuji sesuai keadaan agamanya. Jika agamanya itu kokoh maka diperberatlah ujiannya. Jika agamanya itu lemah maka ujiannya pun disesuaikan dengan agamanya. Senantiasa ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikit pun.” (HR. al-Ahmad, al-Tirmidzi dan Ibn Majah,berkata al-Tirmidzi: hadits hasan shahih)
Sedangkan bala atau cobaan maupun ujian juga telah disebutkan didalam Al Qur’an seperti tertulis dalam firman Allah SWT : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiya [21] : 35)

Cobaan atau ujian yang menimpa setiap orang dan ini bisa berupa keburukan atau kebaikan, kesenangan atau kesengsaraan, sebagaimana disebutkan pula didalam firman-Nya yang lain yaitu : “ Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran) (QS. Al A’raf [7] : 168).

Sekarang coba tanyakan dengan jujur pada diri sendiri, bagaimana keimanan kita terhadap Allah SWT ? Apabila kita termasuk orang yang lalai, maka jawaban atas musibah yang menimpa, adalah sebagai azab dan peringatan atas kelalaian kita, agar kita sadar dari kelalain kita selama ini. Dan segeralah bertobat.

Dan kalau kita bukan hamba-Nya yang lalai, maka segala ujian yang terjadi menimpa kita, adalah sebagai suatu ujian, dimana dengan ujian itu, Allah telah menyiapkan tingkat keimanan yang lebih tinggi untuk kita. Seperti menjadikan kita hamba pilihan-Nya yang sabar. Dan pahala orang yang sabar sungguh tanpa batas. Seperti tertulis dalam firman-Nya : “…..Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (Az Zumar [39] : 10) Dengan kesabaran, akan bisa meraih ridha Allah, dan ridha Allah adalah segalanya.

Dewi Yana
 http://dakwahdewiyana.blogdetik.com

MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN RI KE 64 TAHUN


merah putih Indonesiaku

MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN RI KE 64 TAHUN

 

 

Pada tanggal 17 Agustus 2009 nanti, semua bangsa Indonesia, memperingati hari bersejarah, yaitu hari kemerdekaan republik Indonesia. Dalam usia yang ke 64 tahun ini, republik Indonesia, sudah bisa dikatakan sukses dan banyak kemajuan. Walau masih banyak kekuarangan dibanyak sektor, tapi kalau kita lihat dari pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, ini merupakan indikasi kesuksesan yang diraih. Kesuksesan dan keberhasilan, bukanlah sesuatu yang bisa diraih secara instant, dalam tempo yang singkat, tapi harus diraih dengan perjuangan yang kontinyu dan konsisten, bertahap tapi pasti melangkah maju.

Kemajuan kita dapat terlihat dari terbenahinya pekerjaan rumah (PR) lama yang ditinggalkan pemimpin bangsa kita terdahulu, yang diteruskan, dibenahi dan dilanjutkan sesuai dengan tuntunan jaman. Kenaikan harga minyak dunia dan resesi ekonomi global, sampai sekarang ini, Alhamdulillah dapat kita sikapi dengan baik, dengan tidak terlalu terpengaruhnya iklim usaha kita. Pabrik-pabrik masih berpoduksi, pengurangan tenaga kerja secara besar-besaran sampai sekarang belum terjadi. Ini suatu prestasi yang harus kita syukuri.

 

Ujian negara kita ini, diusianya yang ke 64 tahun juga semakin berat, dimana negara kita tercinta ini diguncang oleh teroris yang berusaha menebarkan maut dan ketakutan di Indonesia ini, namun semua itu masih bisa kita sikapi dengan bijak, tidak ada ketakutan yang berlebihan dikalangan masyarakat. Dan yang lebih menganggumkan lagi, pencapaian para intelejen kita yang telah sukses melacak jaraingan terorisme yang menyerang negara kita.

 

Sikap TNI kita kepada negara tetangga yang ingin menguasai wilayah kita pun, patut di acungkan jempol, keberhasialan kita akan konfersi minyak tanah ke kompor gas, merupakan suatu keberhasilan yang patut dibanggakan.

 

Jadi walalupun dibeberapa sisi, kita masih ada kekurangan, itu suatu hal yang wajar, karena berbicara sebuah negara, maka pasti berbeda dengan berbicara tentang sebuah keluarga atau rukun tetangga yang lebih sedikit penduduknya dan lebih kecil wilayahnya.  Kemajuan kita dalam bidang pemberantasan korupsi, sangat patut kita acungkan jempol, karena dipriode sebelumnya hal ini belum terlaksana sebaik sekarang, demikian pula dengan pemberantasan judi, inilah yang saya maksudkan dengan pekerjaan rumah (PR) yang ditinggalkan pemimpin kita terdahulu, yang sudah menjadi kewajiban kita bersama, menyelesaikannya, untuk kemajuan negeri tercinta ini.

 

Marilah kita bersama-sama melakukan hal yang bermanfaat untuk negeri tercinta ini. Mulailah dari hal terkecil, dari diri sendiri dan mulailah dari lingkungan keluarga kita serta lingkungan terdekat. Insya Allah bila semua individu bangsa Indonesia serentak mempunyai kesadaran dan kemauan bersama untuk memajukan Indonesia, dengan memulainya dari diri sendiri, maka kita akan daapat melihat hasilnya dalam kurun waktu kedepan. Karena apa yang kita lakukan sekarang  untuk negeri ini, maka itulah  yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita nanti.

 

Dewi Yana

http://dewiyana.blogdetik.com

UJIAN KELAPANGAN DAN KESEMPITAN


Dalam kehidupan ini, terkadang Allah SWT melapangkan dan menyempitkan urusan kita, sebenarnya Allah melapangkan kita, supaya kita tidak selalu dalam berada dalam kesempitan dan Allah menyempitkan kita supaya kita tidak hanyut dalam kelapangan. Allah SWT mengubah-ubah keadaan kita dari kelapangan pada kesempitan,  sedih ke gembira, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya kita mengerti bahwa kita tidak terbebas dari hukum ketentuan-Nya, dan supaya kita selalu berdiri diatas landasan LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH (tidak ada daya untuk mengelakkan sesuatu dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah)

Mengutip Kitab Al Hikam, Ibn Atha Illah al-Sakandari, Abu Bakar Assiddiq ra berkata, ”kami diuji dengan kesukaran, maka kami tahan, sabar, tetapi ketika diuji dengan kesenangan atau kelapangan kami hampir tidak sabar atau tidak tahan”  Karena itu  bagi beberapa orang arif, jika merasa lapang lebih khawatir/takut daripada jika berada dalam kesempitan, karena didalam masa kelapangan, hawa nafsu dapat lebih berperan mengambil bagiannya sedangkan dalam masa sempit, hawa nafsu lebih sulit memperdaya.

Namun bagi sebagian orang, justru merasa nyaman-nyaman saja dengan ujian kelapangan yang diberikan Allah, dan kadang ada yang terhanyut dalam ujian kelapangan yang diberikan-Nya, hingga menomor duakan Allah atau bahkan yang terparah melupakan Allah, Sang Pemberi Nikmat dan Kelapangan. Setelah Allah mencabut ujian kelapangan dan menggantinya dengan ujian kesempitan, maka barulah orang itu sadar dan kembali mengingat Allah.

Tidak sedikit dari kita yang tidak mampu menghargai keberadaan Allah dikala senang, disaat lapang, dan baru kembali mengingat-Nya, mencari-Nya, mendekati-Nya, saat berada dalam kesulitan/kesempitan.  Apabila kita tidak ingin, diingatkan oleh Allah melalui ujian kesempitan, ujian kesusahan,  maka ingatlah Allah selagi kita berada dalam kelapangan dan kemudahan.

Tunaikanlah semua kewajiban kita dengan sebaik-baiknya, jangan sampai kita melupakan fitrah kita diciptakan-Nya, yaitu untuk mengabdi kepada-Nya, seperti tertulis dalam firman-Nya di surah Adz Dzariyat ayat 56 Allah swt berfirman :  Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku/mengabdi kepada-Ku”

Mengutip Al Hikam, Ibn Athaillah al Sakandari, Wahb bin Munabbiih berkata, Allah swt berfirman : Hai anak Adam, ta’atilah perintah-Ku dan jangan engkau beritahukan kepada-Ku apa yang menjadi hajat kebutuhan yang baik bagimu (yakni engkau jangan mengajari kepada-Ku apakah yang baik bagimu).  Sesungguhnya Aku telah mengetahui kepentingan hamba-Ku.  Aku memuliakan siapa yang patuh pada perintah-Ku dan menghina siapa yang meremehkan perintah-Ku.  aku tidak menghiraukan kepentingan hamba-Ku sampai hamba-Ku memperhatikan hak-Ku (yakni memperhatikan kewajibannya terhadap Aku)”

Dengan memperhatikan Firman Allah tersebut diatas, sebaiknya kita meyakini, bahwa sebenarnya, hidup kita susah atau senang, sebenarnya itu sangat terkait dan tergantung pada seberapa besar keimanan kita kepada Allah dan pada seberapa besar kita menempatkan Allah dalam hati, sudahkah menjadi prioritas utama? Karena semua Firman Allah pasti benarnya.  Kita ingin hidup kita berjalan mulus, rezeki lancar, dapat meraih cita-cita, tapi kita tidak mementingkan Allah dan mengabaikan Allah yang Maha Pemberi Segala.

Sebenarnya Allah swt, memberikan kita ujian kesulitan, kesempitan, itu untuk kebaikan kita sendiri, untuk menyadarkan kita dari kelalain jiwa dan ketahuilah Allah swt tidak pernah membuat hamba-Nya menderita, kita menderita karena ulah kita sendiri.

 

DEWI  YANA

http://dakwahdewiyana.blogdetik.com

MEYAKINI ALLAH SEDANG MELIHAT KITA


Dalam hidup ini kita harus menetapkan batasan terendah sebagai seorang mukmin, yaitu meyakini Allah sedang melihat kita”  karena bila kita masih berada dibawah batasan ini, berarti kita termasuk golongan yang lalai.  Kita semua mengetahui bahwa Allah SWT : Al-Bashir (Maha Melihat)   dan Al-Syahid (Maha menyaksikan).

Meyakini Allah sedang melihat kita, disebut juga dengan kesadaran muraqabah, Pengertian muraqabah adalah :  menerapkan kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan  mengawasi  kita dalam segala keadaan. Bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita rasakan, ucapkan dan kita perbuat.

Bila kita tidak bisa menerapkan keyakinan bahwa Allah sedang melihat kita, (muraqabah), maka kita akan menjadi hamba yang lupa akan pengawasan Allah, karena kita mengira bahwa Allah tidak mengetahui apa yang kita kerjakan. Sehingga ada dari kita yang sering berdusta/berbohong, hingga berbohong  menjadi suatu hal yang sudah biasa dilakukan dan yang terparah bahkan tidak ada rasa canggung dan tidak merasa berdosa bila telah melakukan suatu kebohongan baik untuk hal kecil maupun besar, Dan pada umumnya, orang yang telah berbohong/berdusta, akan cenderung melakukannya lagi, lagi, dan lagi.

Mereka yang berbohong/berdusta/mengatakan sesuatu yang tidak benar, biasanya malu untuk mengakuinya, karena gengsi, memikirkan takut apa penilaian orang padanya bila mengetahui kebohongannya dan takut nama baiknya tercemar. Walaupun sebenarnya dia sadar bahwa kebohongan/ dusta yang dikatakannya itu, kadang telah membawa kesulitan bagi orang lain serta merugikan orang lain. Terutama apabila kebohongannya itu  lebih menjurus kepada sebuah fitnah, misalnya dengan mengatakan kebohongan, menuduh seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.  Ini tingkat kebohongan yang sudah parah, karena kebohongan yang seperti ini sama saja dengan fitnah, dan fitnah itu bisa jadi senjata yang sangat menghancurkan.

Mungkin bagi yang melakukan kebohongan/dusta, baik yang kecil atau besar, lupa bahwa ada Allah yang Maha Menyaksikan segalanya, seperti tertulis dalam firman-Nya: “kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari penyaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Fushshilat : 22)

Allah menciptakan telinga, mata dan kulit yang selalu menyertai kita untuk mengawasi semua gerak-gerik kita dimana pun kita berada.  Sadarilah, bahwa anggota tubuh kita itu akan melaporkan semua aktivitas kita kepada Allah pada hari penyaksian nanti.  Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : “sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa telah mereka kerjakan” (Q.S. Fushshilat : 20).

Mengutip buku  Ketika Allah Berbahagia, dr Abu Syadi khalid :   Diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik ra, sebagai berikut : suatu hari kami duduk bersama-sama Rasulullah saw, kami lihat Beliau tertawa, kemudian Beliau bertanya kepada kami, tahukah kalian apa yang menyebabkanku tertawa ?  Kami menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.  Rasul berkata, saya tertawa karena dialog seorang hamba dengan Tuhannya (di hari pembalasan).

Hamba itu berkata : wahai Tuhan, tidakkah Engkau akan menyelamatkanku dari kezaliman ?  Tuhan menjawab, Ya. Kemudian hamba itu berkata, saya tidak akan menerima tuduhan atasku kecuali dengan bedasarkan saksi.  Tuhan menjawab : Cukup dirimu sendiri dan malaikat pencatat amal yang akan menjadi saksi.  Setelah itu mulut hamba tersebut ditutup dan Tuhan mulai menanyai anggota tubuh hamba tersebut.  “Berkatalah”, maka anggota-anggota tubuh itu mengisahkan semua amal perbuatan hamba tersebut.  Kemudian mulut hamba tersebut diperkenankan untuk berbicara kembali, maka (sambil marah) mulut itu berkata kepada anggota-anggota badan yang lain, kalian adalah penghianat dan akan binasa, dulu didunia aku telah membela kalian.

Jadi, bila ada dari kita yang kadang masih suka berbohong/berdusta, baik dalam hal kecil maupun besar, sebaiknya segeralah bertaubat, dan mulai menerapkan batasan terendah sebagai seorang muslim, agar kita tidak menjadi hamba Allah yang lalai. Dan cobalah untuk mengucapkan tiga kata-kata berikut ini, disertai dengan pemahaman yang mendalam : Allahu Ma’ii (Allah bersamaku) Allahu Nazhirii (Allah melihatku) Allahu Syaahidii (Allah Menyaksikanku).

Cobalah baca wirid itu berulang-ulang, Insya Allah kita bisa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah, serta benar-benar merasakan Allah melihat segala apa yang kita kerjakan, seperti yang tertuilis dalam firman-Nya di surah Al Hadid ayat 4 :

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al Hadid 4)

 

Dewi Yana

http://dakwahdewiyana.blogdetik.com